Saturday, April 3, 2010

Duri-duri Yang Merusak Ukhuwah



Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir ‘Uqdah
Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukminin dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, seperti dalam firman-Nya :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Al Hujuraat : 10)
Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin sesungguhnya merupakan anugrah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT.
Sebagaimana firman-Nya :
وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” ( Ali Imran : 103)
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ . وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan- Nya dan dengan para mu’min, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” ( Al-Anfaal : 62-63)
Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yang telah terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus sama sekali dikarenakan virus-virus yang berjangkit di hati, antara lain :

1. Tamak akan kenikmatan dunia

Banyak kasus dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Apa yang akan kita lakukan seandainya ada peluang rizki di mana kita dan saudara kita sama-sama membutuhkan? Sering terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling jegal demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam Al Hasyr : 9 berikut ini.
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr:9)

2. Tidak santun dalam berbicara

Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi setan untuk masuk menebar bibit-bibit perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan.

Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang harus dihindari adalah :
a. Berbicara dengan nada suara tinggi dan menggunakan kata-kata kasar
Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya :
وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Luqman : 19).
Ali bin Abu Thalib berkata : “barangsiapa lembut tutur atanya, niscaya manusia suka dengannya”.

b. Tidak mendengar saran saudaranya, enggan menatap ketika berbicara atau memberi salam, tidak menghargai keberadaannya.

Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai.”
Kemuliaan akhlak Rasulullah membawa beliau untuk tetap mndengar dan tidak memotong kata-kata seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan ‘Utbah)?”

c. Bergurau secara berlebihan

Bergurau ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelenturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, canda yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.

d. Sering mendebat dan membantah

Sering mendebat dan membantah diikuti oleh dampak begatif lainnya seperti menganggap unggul ide, sering mengkritik ide sahabat, sok tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran.
Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan mengubah sikap.

Sabda Rasulullah :
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan suka membantah”(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad)
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ
“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka suka saling berbantah-bantahan”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman surga – yang diperuntukkan – bagi orang-orang yang menghindari perdebatan (perselisihan) , sekalipun dalam posisi yang benar” (HR. Abu Dawud)

e. Kritikan keras yang melukai perasaan

Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak argumentatif.

Seperti ungkapan : “Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkan.” Atau : “Kamu berseberangan dengan saya.”

Jika antum seorang yang beretika baik, seharusnya yang antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”, “Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide lain, harap antum menyimaknya dan memberi penilaian”, dan ungkapan-ungkapan serupa lainnya.

3. Sikap Acuh/tidak care atau cuek

Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur.
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan, menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah…..Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudaranya, sehingga berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Berempati atas semua musibah dan penderitaan yang dialami saudara atau sahabat serta memperhatikan keperluan-keperluannya merupakan salah satu hal yang bisa mempererat ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar-benar tidak bisa tinggal diam (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).
Perasaan yang tulus juga akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu-waktu terkabulnya do’a.
Sabda Rasulullah :
“Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan”. (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

4. Mengadakan Pembicaraan Rahsia

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آَمَنُوا

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, agar orang-orang yang beriman itu berduka cita” (Al-Mujadilah : 10)
Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda :
إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الثَّالِثِ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ
“Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu dapat membuatnya sedih”. (Ahmad)

5. Keras kepala, enggan menerima nasihat dan saran

Sikap keras kepala dan enggan mnerima nasihat, membuat seorang sahabat merasakan adanya dinding pemisah antara diri antum dan dirinya. Ia merasa sulit untuk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin- menganggapmu sombong.
Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat dan istri-istri beliau untuk memberikan ide dan saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima dan menuruti saran mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik, atau sekedar pertanyaan
.
6. Sering membantah, berbeda sikap dan bersikap sombong dan kasar

Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua orang yang bersahabat mesti memiliki beberapa kesamaan sifat, kebiasaan, dan watak. Pepatah mengatakan : “Burung-burung bergerombol dengan sesama jenisnya.”
Malik bin Dinar berkata : “Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”
Karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Hal tersebut biasa terjadi karena antum menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, pemahaman, dan ide.
Di antara faktor yang dapat menambah keakraban ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan sahabat. Sebaliknya, sering berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi keakraban. Tetapi tentunya semua itu dilakukan dengan syarat tidak melanggar aturan syari’at agama.
Terhadap saudara atau sahabat, kita juga harus bersikap lembut dan tidak sombong. Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau : “Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10 tahun, dan selama itu beliau tidak pernah mengeluh atau mengomentari pekerjaanku, seperti mengatakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?’, juga tidak pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan sesuatu, seperti mengatakan ‘Kenapa kamu tidak melakukan ini?’.

7. Memberi teguran di depan orang lain

Salah satu hak ukhuwah terhadap saudara kita adalah memberi nasihat apabila ia melakukan kemungkaran, maksiat atau kesalahan, dengan tujuan agar ia kembali pada kebenaran sekaligus terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah SWT.
Namun demikian, nasihat tidak boleh dilakukan secara terbuka di tengah keramaian umum, kecuali dengan alasan yang mendesak, karena merupakan sifat manusia, dia tidak suka jika keburukan-keburukan nya dibuka di depan umum. Lebih dari itu, menasihati atau menyebut kesalahan seseorang di muka umum merupakan penyebab cepat pudarnya rasa cinta dan mudah tertananam bibit-bibit permusuhan karena merasa dicemarkan dan dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras kepala dan nafsu untuk membalas dendam.
Lain halnya bila seseorang dikritik atau dinasihati dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih menerima, mampu memahami permasalahan dengan jelas, dan tertarik kepadamu karena merasa telah diberi pertolongan dan diingatkan akan kesalahan yang telah dilakukan.
Terkadang ada orang yang memberi nasihat ingin melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga berharap agar orang yang dinasihatinya berubah seketika. Jika tidak demikian, ia berasumsi bahwa nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya menekan orang yang dinasihati, sehingga lebih mirip sebuah pemaksaan kehendak daripada menasihati. Ia juga beranggapan bahwa orang yang dinasihati itu tidak mengerti nasihat yang diberikannya, atau belum menerima nasihat itu. Pandangan seperti itu adalah tidak benar, karena sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka enggan mengakui kesalahan secara langsung, melainkan membutuhkan rentang waktu untuk berpikir, atau mencari kesempatan untuk kembali.

8. Sering menegur, tidak toleran dan cenderung negative thinking serta enggan memaafkan

Sikap sering menegur dan menekan sahabat dapat mengakibatkan terpuruknya tali ukhuwah, karena sahabatmu beranggapan bahwa Anda tidak dapat menerima kekurangannya sekecil apapun, atau menganggapmu selalu diliputi prasangka buruk terhadapnya. Jika Anda terus menggunakan cara bergaul seperti ini, tentu Anda tidak akan mendapatkan seorang sahabat yang bebas dari kekurangan. Artinya, Anda tidak akan pernah bisa menjalin ukhuwah.
Dalam memilih teman atau sahabat, kita perlu menentukan kriteria ideal, misal : akhlaqnya bagus, karena kita memang dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang shalih. Akan tetapi perlu diingat juga bahwa tidak ada sahabat yang bebas dari kekurangan, sebagaimana Anda pun tidak lepas dari kekurangan. Maka terimalah kekurangannya sebagaimana ia menerima kekuranganmu.
Fudhail bin ‘Iyadh berucap : “Siapa mencari sahabat tanpa cacat, niscaya sepanjang hidupnya tidak mendapat sahabat.”
Salah satu ciri ukhuwah yang tulus lainnya adalah suka memaafkan dan lapang dada terhadap kesalahan. Hasan bin Wahb berkata : Di antara hak-hak ukhuwah adalah memaafkan kesalahan sahabat dan terbuka atas segala kekurangannya.”Suatu kesalahan yang dilakukan oleh sahabat tidak boleh menjadi alasan untuk menjauhi atau putus darinya.

Rasulullah saw bersabda :
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Penyambung persaudaraan bukanlah orang yang membalas kebaikan yang pernah diterimanya, namun penyambung persaudaraan adalah yang diputus hubungannya, lalu dia menyambungnya kembali.” (Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata :
Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di hati # Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa permusuhan
Kuucapkan salam di saat berjumpa lawan # Agar manahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam # Kutampakkan wajah berseri kepada orang yang kubenci
Seakan berbunga hatiku penuh kecintaan # Manusia adalah penyakit
Penawarnya dengan cara mendekati # Jika menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati

Jika sahabatmu menyakiti atau berbuat kesalahan kepadamu, maka sikapilah dengan lapang dada dan maafkanlah jika sanggup memafkannya dengan penuh ketulusan. Namun jika tidak, tegurlah dengan baik, seperti yang dianjurkan oleh Abu Darda’ ra : “menegur saudaramu atasa kesalahannya adalah lebih baik, daripada harus berpisah. Adakah yang sanggup menunjukkan kepadamu seorang sahabat yang sempurna?”

9. Mudah percaya hasutan orang-orang yang mendadu domba dan memendam dengki

Merupakan kesalahan besar jika Anda mudah mempercayai isu yang berkembang mengenai sahabatmu, atau menuduhnya telah melakukan perbuatan yang menyakitkan, hanya berdasarkan kepada kabar burung dan isu yang diterima. Waspadalah, karena banyak orang yang dengki kepada orang-orang yang terikat dalam jalinan ukhuwah. Para pendengki tersebut mempunyai kecemburuan yang sangat tinggi. Mereka tidak suka melihat hubungan tulus yang begitu kuat mengikat hubungan orang2 yang bersahabat, mereka tidak tenang selama tali ukhuwah tersebut belum tercerai-berai.
Oleh karena itulah, orang2 yang dipertemukan oleh Allah SW dalam sebuah jalinan ukhuwah harus yakin bahwa satu sama lainnya saling mencintai karena Allah, saling mencintai dengan penuh ketulusan yang muncul dari nurani yang paling dalam. Dengan demikian, sekuat apapun para pendengki memusuhi, tetap tidak akan mampu menggoyahkan kokohnya konstruksi ukhuwah.
Firman Allah SWT :
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“dan -Allah- yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana”.(Al Anfal : 63)

10. Membuka Rahsia

Salah satu faktor yang dapat mempertahakankan ukhuwah adalah menjaga rahasia sahabat agar tidak tersebar.

Rasulullah saw bersabda :
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Jika seseorang diberitahu oleh sahabatnya mengenai suatu hal, lalu ia pergi, maka hal tersebut telah menjadi amanat (rahasia yang harus dijaga) baginya.” (Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)

Sebagian ulama membuat ilustrasi mengenai sahabat yang membawa malapetaka jika dekat dengannya, yaitu orang yang jika dekat, ia berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan kita, memperhatikan kesalahan dan kekurangan, menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan biasa maupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yang siapapun sulit terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan semua itu sebagai senjata untuk menjatuhkan sahabtanya di kala terjadi perselisihan”. Semoga kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yang seperti ini. Naudzubillah mindzalik.

11. Mengikuti prasangka

Mempunyai prasangka bahwa sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat menyakitinya. Apalagi jika Anda sudah membangun sikap-sikap tertentu berdasarkan prasangka tersebut. Selain bisa menyakitinya, hal ini juga betul-betul akan menyakiti dirimu sendiri, karena prasangka buruk dapat merusak ketulusan perasaan hatimu terhadapnya.
Oleh karena itu, ketulusan hati dan prasangka baik (husnuzhzhan) merupakan salah satu faktor yang dapat mempertahankan hubungan ukhuwah.

Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya melarang kita berburuk sangka (su’udzdzan) dan mengikutinya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” ( Al-Hujuraat : 12)

Sabda Rasulullah :
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Hindarilah prasangka (buruk), karena prasangka (buruk) adalah ucapan yang paling dusta.” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)
Prasangka buruk dapat mendorong kepada perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang dilarang oleh agama. Juga dapat mendorong untuk menjelek-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta dan makna ukhuwah, orang yang jika marah terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka buruk atau mengejeknya di hadapan orang lain.

12. Mencampuri masalah pribadi

Termasuk dalam hal mencampuri urusan pribadi adalah mencari-cari kesalahan, mencuri pendengaran, serta turut campur dalam masalah yang tidak ada gunanya bagi kita.
Sabda Rasulullah :
وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
“Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri pendengaran (tahassus), saling bermusuhan dan saling menjauhi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)
Dalam sirah sahabat Nabi dikisahkan, ada seorang sahabat Nabi yang sakit. Ketika para sahabat dan kerabat menjenguknya, mereka merasa heran ketika melihat wajah sahabat yang sakit tersebut begitu ceria. Lalu mereka bertanya mengenai sebab keceriaannya. Ia menjawab : “ Ada dua amalan yang benar-benar kuyakini pahalanya sangat besar, yaitu aku tidak pernah berbicara mengenai hal-hal yang tidak berguna, dan hatiku bersih dai segala perasaan kotor terhadap sesama kaum muslim.”

13. Egois, arogan, tidak berempati dengan penderitaan saudara dan tidak memperhatikan masalah serta kebutuhannya

Suatu pelajaran yang indah dapat kita petik dari cerita Harun bin Abdillah ra ketika ia berkata : “Pada suatu saat, Ahmad bin Hambal mengunjungiku di tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku bertanya : “Siapa di luar sana ?” Ia menjawab : “Aku, Ahmad”. Segera kubuka pintu dan menyambutnya. Aku mengucapkan salam dan ia pun demikian. Lalu aku bertanya : “Keperluan apakah yang membawamu kemari?” Ahmad menjawab : “Siang tadi, sikapmu mengusik hatiku.” Aku bertanya : “Masalah apakah yang membutmu terusik, wahai Abu Abdillah?” Ahmad menjawab : “Siang tadi aku lewat di samping halaqoh-mu, ketika engkau sedang mengajar murid-muridmu, engkau duduk di bawah bayang-bayang pohon sedangkan murid-muridmu secara langsung terkena terik matahari dengan tangan memegang pena dan catatan. Jangan kau ulangi perbuatan itu di kemudian hari. Jika engkau mengajar maka duduklah dalam kondisi yang sama dengan murid-muridmu.”
Dalam kisah di atas, setidaknya ada dua catatan yang layak direnungkan.
1. yang bercerita bukan pihak yang memberi nasihat, melainkan orang yang dinasihati dan ia tergugah dengan nasihat tersebut,
2. kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam Ahmad. Ia menyampaikannya secara sembunyi di tengah malam, dengan menggunakan kata-kata “Sikapmu mengusik hatiku”, benar-benar suatu ungkapan yang lembut. Ia tidak mengatakan, misalnya “Kamu telah menyakiti manusia….”
Faktor lain yang dapat memperkokoh ukhuwah adalah berempati terhadap penderitaan saudara dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan nya.
Sabda Rasulullah :
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Siapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah mencukupi kebutuhannya Siapa yang menolong seorang mukmin dari suatu kesusahan, niscaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)

Dalam hal mencukupi kebutuhan saudara kita;
- Skala paling rendah adalah sebatas mencukupi kebutuhannya ketika diminta dan kita mampu, dan bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati merasa senang dan bahagia.
- Skala pertengahan adalah mencukupi kebutuhannya tanpa ia minta.
- Skala yang tertinggi adalah mengutamakan kebutuhan saudara kita daripada kebutuhan kita sendiri.
Sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya # namun ketika susah hanya sedikit yang tersisa
Maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang sahabat # namun ketika musibah menimpa tiada yang mengiba
Semua sahabat menyatakan dirinya setia # namun tidak semua berbuat seperti ucapannya
Kecuali sahabat yang penuh derma dan taat agama # itulah sahabat yang berbuat sama dengan kata-katanya


14. Menutup diri, berlebihan, membebani dan menghitung-hitung kebaikan

Jika Anda ingin membuat hati seorang sahabat menjadi senang dan bersikap terbuka apa adanya, maka hindarilah menutup diri dan jangan membuatnya merasa terbebani, jangan menghitung-hitung kebaikannya kepadamu, jangan memberatkannya agar melayanimu, dan bersikaplah rendah hati.
Dalam hal ini, cara pandang yang paling baik adalah kamu menganggap dirimu lebih layak melayani daripada dilayani, dengan demikian kamu cenderung menganggap dirimu sebagai pelayan. Barangkali Umar bin Khaththab adalah sosok yang bisa dijadikan contoh. Beliau berbuat baik kepada siapa saja, tidak hanya sahabat dekat, melainkan juga budak-budaknya.
Menurut Aslam, salah seorang pelayan Umar, pada suatu malam terkejut mendapati Umar sedang mengurus kuda-kuda pelayannya dan kudanya sendiri, seraya melantunkan puisi :
Jangan biarkan malam ini membuat hatimu resah # Hiasilah ia dengan sehelai baju dan sorban
Jadilah sahabat baik bagi Naif dan Aslam # Layanilah mereka

15. Enggan mengungkapkan perasaan cinta, enggan membela sahabat ketiak aibnya disebut

Tentang menyatakan cinta pada saudara Rasulullah bersabda:
“Jika seorang di antara kamu mencintai saudarnya karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena hal itu dapat mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Di antara hak ukhuwah adalah membela dan mempertahankan nama baik sahabat
. Rasulullah bersabda :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhalimi dan menyerahkannya.” (Bukhari, Ahmad)

16. Melupakannya karena sibuk mengurusi orang lain dan kurang setia

Di antara gambaran akhlaq buruk dalam berukhuwah adalah ketika kita mendapatkan seorang sahabat baru lantas meninggalkan sahabat yang telah kita kenal dalam jangka waktu lama. Salah satu penyebab kekecewaan sahabat adalah ketika ia berusaha sekuat tenaga untuk dekat denganmu dan selalu mengutamakanmu dari siapapun juga, ia justru mendapatimu tidak setia dan tidak menghargainya.
Tidak setia terhadap sahabat juga dapat memutuskan tali ukhuwah.
Tanda-tanda kesetiaan terhadap sahabat di antaranya adalah :
- berdoa untuknya dari kejauhan, baik selama ia hidup atau setelah kematiannya, berbuat baik kepada orang yang dicintainya juga keluarganya.
- konsiten dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) terhadap sahabat, sekalipun kedudukan ataupun ilmu Anda lebih tinggi darinya.


17. Mengingkari janji dan kesepakatan tanpa alasan yang jelas

Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan dalam diri sahabat Anda bahwa Anda tidak memperhatikannya, karena orang yang mengingkari janji atau kesepakatan berarti telah meninggalkan sesuatu yang dianggap kurang penting demi meraih sesuatu yang dianggap lebih pening. Alasan ini sudah cukup kuat untuk membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan merusak ukhuwah.

18. Selalu menceritakan perkara yang menyedihkan dan suka menyampaikan berita yang membuat resah

Ibnu Hazm ra bekata :
“Jangan sampaikan beritayang membuat saudaramu sedih atau tidak bermanfaat baginya, karena itu adalah perbuatan orang-orang kerdil. Dan jangan menyembunyikan berita yang bisa membahayakannya jika ia tidak tahu, karena itu merupakan pekerjaan orang-orang jahat.”
Yahya bin Mu’adz berkata :
“Jadikanlah tiga hal berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang-orang mukmin; jika tidak bisa memberi manfaat, maka jangan membahayakannya; jika tidak bisa membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih; Jika tidak memujinya, maka jangan mencacinya.”

19. Terlalu cinta

Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang berlebihan, seprti ketergantungan atau rasa suka terhadap sahabat, membebani diri dengan beban yang terlalu berat dalam upaya melayani atau mendekatinya.

Rasulullah saw bersabda :
“Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.” (Bukhari, Tirmidzi)

Abul-Aswad berkata :
Cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana # Karena kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah # Tapi jangan menjauhi
Karena kamu tidak tahu # Kapan harus kembali
Mencintai sahabat secara berlebihan malah akan melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut. Namun demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih besar dari cintanya kepadamu, agar mendapat fadhilah (keutamaan) dari Allah melalui sabda Rasul-Nya :
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.” (Bukhari)
Jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan instrospeksi, menilai diri sendiri untuk memperbaiki kadar ukhuwah dan menunaikan hak ukhuwah saudaraku. Jangan jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan untuk menilai sahabat-sahabat Anda, karena jika itu dilakukan, Anda pasti akan lebih memilih untuk ‘uzlah atau menyendiri. Wallahu’alam.

sumber


coretan~_^

Terima kasih buat semua sahabat disisi ,mg kita semua tergolong dalam golongan sahabat yang soleh yang menjadikan redha Allah sebagai matlamat,dan terjauh dari sikap seorang sahabat yang buruk sebagaimana sebahagian ulama membuat ilustrasi mengenai sahabat yang membawa malapetaka
jika dekat dengannya, yaitu orang yang jika dekat, ia berusaha mengetahui rahasia,
mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan kita, memperhatikan kesalahan dan kekurangan, menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan biasa maupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yang siapapun sulit terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan semua itu sebagai senjata untuk menjatuhkan sahabtanya di kala terjadi perselisihan”. Semoga kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yang seperti ini. Naudzubillah mindzalik.

Hukum sertai Facebook




Bimbingan dari Ust Zaharuddin Abd Rahman

SOALAN:

SAYA ditanya soalan: “Ustaz, syubhahkah menyertai Facebook? Saya terbaca artikel yang menyatakan pemiliknya, Mark Zucherberg menyumbangkan dana melalui penggunaan Facebook ini dari seluruh dunia kepada bangsanya, Yahudi. Mohon penjelasan ustaz?”

JAWAPAN:Soalan ini terlalu kerap dilontar kepada saya dan begitu banyak juga ditulis oleh pelbagai individu di forum juga blog. Dalam menentukan keputusan dan hukum menyertai Facebook, menurut pendapat saya, ada beberapa isu yang perlu diperhati:

1. Bolehkah menggunakan produk ciptaan Yahudi?



Kesimpulannya,

Dibenarkan untuk umat Islam membeli, menjual, mengguna pakai produk ciptaan bukan Islam termasuk Yahudi selagi mana ia dalam ruang lingkup yang halal. Nabi Muhammad SAW juga diriwayatkan dalam hadis sahih berurusan dan membuat transaksi jual beli juga cagaran dengan seorang Yahudi iaitu


: “Sesungguhnya Nabi SAW membeli makanan daripada seorang Yahudi dengan pembayaran secara bertangguh, dan mencagarkan baju besi baginda.” ( Riwayat al-Bukhari, no 2326, 2/841).


2. Apa maksud penyoal dengan ayat 'menyumbang kepada bangsa Yahudi'?

Jual beli Muslim dengan seorang Yahudi hingga memberikan keuntungan kewangan kepada dirinya tidak bermasalah sama sekali di sisi Islam, malah Rasulullah SAW dan sahabat banyak yang berjual beli dengan Yahudi di Madinah. Cuma persoalannya adakah ia bermaksud menyumbang kepada keganasan Yahudi Zionis? Sejauh mana kebenaran dakwaan itu? Adakah sebarang bukti jelas atau hanya bersandarkan kepada latar belakang peribadi si pengasas?

3. Adakah penyaluran dana kepada individu Yahudi atau khas ditujukan kepada proses penjajahan tanah Palestin?

Begini, jika ternyata daripada sumber yang sahih, jelas lagi pasti, sesuatu transaksi jual beli kita memberikan keuntungan kepada organisasi Yahudi yang hasil pendapatannya digunakan untuk proses penjajahan haram, keganasan dan serangan ke atas umat Islam, barulah hukum HARUS berubah menjadi HARAM menurut sepakat ulama. Dalam konteks Facebook, ia masih kekal tidak jelas kerana hampir semua penulisan yang membantah Facebook tidak menyertakan bukti jelas berkaitan hal itu. Semuanya membuat andaian itu dan ini sedangkan andaian semata-mata tidak boleh mengubah hukum asal keharusan kepada haram. Ia sekadar mengajak kita untuk berhati-hati dan peka. Malah majoriti pengguna Facebook tidak melakukan sebarang transaksi kewangan dengan syarikat itu kecuali yang menyertai skim ditawarkan (ini memerlukan perbincangan berasingan).

Jika ada pula yang mengarahkan saya membuat kajian dan mencari bukti itu sebelum memberi pandangan berkenaan status hukum, boleh saya katakan, kajian sudah dibuat dan kami gagal menemui bukti untuk menyokong andaian pihak yang membuat andaian. Jika dikatakan: “Bukti bertulis tentulah dirahsiakan oleh pengurusan Facebook dan mereka memberikan sumbangan secara senyap,” maka jawapannya, Islam tidak memberatkan kita untuk membuat andaian dalam hal seumpama itu. Jika andaian sedemikian masih ingin digunakan, kelak ia mengakibatkan kesukaran berat (mashaqqah) buat seluruh umat Islam pada banyak perkara juga aktiviti lain.

Ini kerana, larangan dan andaian juga akan terpakai buat semua penjual bukan Islam iaitu yang beragama Hindu, Kristian, Buddha dan sebagainya. Penjual terbabit juga boleh diandaikan menyumbang kepada gerakan melawan Islam secara senyap, akhirnya, kita terperangkap dengan kekerasan fatwa kita sendiri hingga bermusuh dengan semua tanpa bukti jelas. Oleh itu, selagi tidak disertakan dan tidak mampu dihadirkan bukti bertulis, selagi itulah hukumnya adalah HARUS untuk berjual beli dengan penjual atau syarikat milik Yahudi. Jika berjual beli pun dibenarkan, apatah lagi sekadar membuka akaun Facebook. Cuma mungkin keharusan berurusan dengan barangan Yahudi, boleh menjadi makruh atau syubhah di ketika wujudnya peperangan dan serangan ke atas umat Islam. Ini memerlukan penelitian satu persatu.

4. Hak peribadi pengguna Facebook dijajah?

Ini mungkin ada benarnya, selepas saya menghabiskan bacaan polisi hak peribadi yang terkandung di dalam web Facebook, ia memberi gambaran bahawa gambar, maklumat dan segala yang terkandung di dalam Facebook kita boleh wujud juga di akaun Facebook orang lain yang dikongsi dan saya yakin pihak Facebook juga mempunyai simpanan data terbabit. Walaupun begitu, ia sekali lagi tidak cukup kuat untuk sampai menjadikan penggunaan Facebook sebagai haram. Apa yang perlu adalah kawalan dan had

KESIMPULAN

Saya tidak berhasrat untuk menyenaraikan satu persatu baik dan buruk penggunaan Facebook, cuma apa yang ingin saya nyatakan sebagai kesimpulan adalah seperti berikut:

1. Hukum membuka akaun dan menggunakan Facebook adalahHARUS selagi tidak terbukti ia menggunakan pengaruh dan keuntungannya untuk menyerang Islam atas nama Facebook sama ada melalui dana kepada Yahudi, Amerika Syarikat dan lainnya.

2. Bagi mereka yang masih tidak selesa dengan latar belakang pengasas dan syarikat Facebook, mereka dinasihatkan TIDAK MEMBUKA DAN MENYERTAI FACEBOOK. Mereka boleh terus memberi nasihat kepada pengguna Facebook supaya sentiasa berhati-hati namun tidak boleh dengan sewenangnya menuduh pengguna facebook melakukan perkara haram.

3. Bagi mereka yang ingin mengambil sikap lebih berhati-hati mereka disarankan:


a. Memanipulasi akaun Facebook untuk manfaat Islam melebihi kepentingan peribadi. Ruang yang ada wajar digunakan untuk mempromosi kefahaman Islam melalui tulisan, video, audio dan sebagainya.

b. Hadkan dan kurangkan perbincangan soal remeh temeh peribadi yang membuang masa diri dan orang lain.

c. Tidak sehingga berkongsi terlalu banyak gambar peribadi (khususnya bagi wanita) sejak zaman kanak-kanak tanpa had kerana ia bakal membawa mudarat berbanding manfaat, kerana ia akan kekal di Facebook orang yang dikongsi dan juga syarikat facebook itu sendiri.

d. Tidak memasukkan perincian peribadi yang sensitif khususnya seperti akaun bank, taraf kesihatan dan sebagainya. Cukuplah sekadar menyertakan nama, tarikh lahir dan pendidikan.

e. Tidak terbabit dengan permainan dan aplikasi yang dijangka bercanggah dengan Islam seperti kuiz ramalan nasib. Sama ada atas dasar 'main-main' atau sebagainya.

f. Tidak mempercayai tilik moden seperti rahsia tarikh kelahiran dan sepertinya yang terkandung dalam aplikasi percuma Facebook. Sama ada atas dasar 'main-main' atau sebagainya.

g. Menyedari bahawa maklumat kita di Facebook boleh menjadi pangkalan data pihak asing untuk memantau kehidupan dan maklumat peribadi kita jika tidak dikawal. Pangkalan data sebegini sebenarnya amat bernilai dan sukar ada satu organisasi di dunia ini yang mampu menyimpan maklumat manusia sebagaimana Facebook. Hatta, parti politik masing-masing pun tidak mempunyai maklumat ahlinya yang sebegitu terkini sebagaimana Facebook. Justeru, maklumat sebegini amat banyak gunanya untuk sebarang tujuan kejahatan dan ketamakan. Jika itu semua dapat dijaga dan disedari, saya kira mengguna Facebook adalah kekal dalam hukum HARUS atau DIBENARKAN, malah jika ia lebih banyak digunakan untuk kemaslahatan Islam, ia DIGALAKKAN. Jika terdapat unsur syubhah sekalipun, ia diatasi oleh manfaat yang disebarkan melalui Facebook itu.


Wednesday, March 24, 2010

Petrol Dalam Dakwah dan Tarbiyyah



Dakwah ini perjalanan yang sangat jauh dan panjang. Bekalan yang sufficient atau lebih sangat-sangat diperlukan untuk meneruskan jalan ini. Seorang akh atau ukht akan pendek nafasnya atas jalan ini andai bekalannya tidak mencukupi. Demikian kaitannya dengan petrol RON 98. Tarbiyyah umpama petrol dalam perjalanan dakwah. Usrah, halaqah, daurah, jaulah etc. adalah stesen-stesen minyaknya. Tugas-tugas dakwah tak dapat diteruskan andai bekalan tarbawi tak mencukupi. Bagaimana mungkin seorang akh mampu bergerak sedang jiwanya kosong. Atas dasar apakah yang mampu menggerakkannya di atas jalan dakwah yang panjang dan berliku ini.
Andai seorang dae’i itu terus memaksa dirinya atau dipaksa untuk menjalankan tugas-tugas dakwah sedang bekalannya tidak cukup, mungkin berlaku seperti enjin kereta Kancil yang kehabisan petrol. Ia akan terhenti. Untuk menggerakkannya kembali, usaha yang lebih sukar dan leceh diperlukan, sama macam mengisi petrol ke dalam enjin yang letaknya jauh di dalam bonet.
Begitu juga halnya jika seorang akh mendapatkan bekalan tarbawi yang tidak tepat. Instead of petrol iman, diesel jahiliyyah yang diisi ke dalam tangki enjin hatinya. Jika ini berlaku, rosaklah hati si akh tersebut dan memaksa proses pembaikan yang mungkin memakan masa yang lama. Banyak juga tenaga, masa dan wang yang perlu dilebur. Nauzubillaah.
Begitulah halnya jalan ini. Bekalan iman yang mendalam dan berterusan adalah pembakar enjin dakwah ini. Hanya tarbiyyah yang berterusan mampu membekalkannya.
Bagaimana tarbiyyah kita? Cukupkah untuk perjalanan yang panjang, jauh dan payah ini?
Wallaahua’lam.

Ya Allah kuatkanlah hati-hati sahabiahku ,moga kami kekal dalam jalan dakwah ini demi mencari redha -Mu...kami tidak kuat melainkan engkau kuatkan ...jangan kau jadikan kami fitnah pada islam dan perjuangan ini.....
~selamat berjuang sahabat-sahabatku~

Monday, March 15, 2010

Bukan cinta biasa



Dipegang jubah suaminya. Matanya yang jernih merenung sayu.
“Apakah ini kerana Allah?” tanya hampir berbisik.
“Ya, wahai isteri ku. Semua ini kerana Allah,” jawab suaminya lalu segera berlalu. Tanpa toleh, tanpa berpaling.
Mendengar jawapan itu Siti Hajar tidak berkata apa-apa lagi. Mata dan hatinya menghantar suaminya Ibrahim AS berlalu pergi. Tega dan redha. Kalau suami ku bertindak meninggalkan aku kerana Allah, aku mesti rela ditinggalkan juga kerana Allah, mungkin itulah rasa hati Siti Hajar sewaktu ditinggalkan Ibrahim.
Itulah sedikit gambaran perpisahan kerana Allah. Nabi Ibrahim AS rela meninggalkan isteri dan anaknya Ismail di bumi yang kering kontang. Satu lembah yang gersang jauh daripada manusia, haiwan dan tumbuhan. Ya, itu semua perintah Allah. Demi cinta khalik yang lebih tinggi dan suci, ditinggalkannya cinta terhadap anak dan isterinya. Itulah hati Nabi Ibrahim. Jika dulu dia diuji dengan bakaran api, kini dia diuji lagi oleh perpisahan dengan anak dan isteri.
Jangan disangka hanya Siti Hajar sahaja yang menderita ditinggalkan, tetapi bayangkanlah juga derita suaminya Nabi Ibrahim yang “meninggalkan”. Kekadang orang yang meninggalkan lebih perit dan sakit penanggungannya daripada orang yang ditinggalkan. Namun apakah pilihan Ibrahim, bila cinta Allah berbicara, cinta yang lain akan membisu seribu bahasa…
Mengapa hanya kata-kata “apakah semua ini kerana Allah?” yang diminta kepastian oleh Siti Hajar terhadap suaminya Nabi Ibrahim? Mengapa tidak ada ucapan yang lain? Mengapa tidak diucapkan, “kenapa sampai hati kau buat begini?” Tidak, ucapan seumpama itu sama sekali tidak terkeluar daripada mulut isteri solehah seperti Siti Hajar. Apa yang hendak dipastikannya hanyalah satu… semua itu dibuat oleh suaminya kerana Allah. Bila kerana Allah, tenanglah hati Siti Hajar… Tuhan pasti tidak akan mengecewakannya. Suaminya tidak akan menganiayanya.
Bertemu kerana Allah, berpisah pun kerana Allah. Itulah tradisi dalam cinta para solihin dan muqarrabin. Dan iktibar buat kita, untuk mengekalkan cinta dalam rumah tangga inilah juga teras dan asasnya. Jangan ada “kerana” yang lain. Jika ada yang lain, pasti cinta itu tergugat jua walaupun bagaimana teguh sekali pun janji dan peneguhan kata yang pernah dimeterai. Untuk mengekalkan cinta, ini sahaja prinsipnya – berbuatlah apa sahaja kerana Allah. Lurus, tulus dan telus tanpa belok dan bengkok.
Sekalipun terpisah, namun cinta Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tidak pernah luntur. justeru kedua-dua berpegang kepada asas cinta yang kekal… cintakan Allah. Dan bila mereka bertemu kembali, beberapa tahun kemudiannya, cinta itu teruji lagi. Kali ini Nabi Ibrahim diperintahkan pula oleh Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail. Nabi Ibrahim tekad, Ismail mesti dikorbankan. Tetapi bagaimana Siti Hajar?
Siti Hajar teruji lagi. Nilai anak bagi seorang ibu, kekadang melebihi nilai suami kepada seorang isteri. Ikatan hati antara ibu dan anak jauh lebih teguh dan kukuh daripada ikatan suami dan isteri… begitu kekadang pakar-pakar psikologi mengungkapkan. Namun itu sedikit pun tidak menjejaskan jiwa Siti Hajar, sekali lagi “jika itu kehendak Allah” dia pasrah. Allah tidak akan mengecewakannya. Siti Hajar rela “kehilangan” anak dan suami berkali-kali. Seperti air zam-zam yang menyuburkan lembah Makkah yang gersang maka begitulah iman yang memperkasa jiwa Siti Hajar. Sekali lagi dia rela dan tega.
Ah, agungnya sejarah itu. Namun di mana asas kekekalan cinta itu masa kini? Kadar perceraian melonjak semakin tinggi. Janji hidup bersama, mati berdua hanya jadi mainan kata sewaktu bercinta. Tetapi sebaik musim bulan madu berlalu, cinta semakin hari semakin terhakis. Dan akhirnya usahkan untuk mati bersama, hidup berdua pun sudah tidak mampu lagi. Suami jemu dengan kerenah isteri. Isteri bosan dengan tingkah laku suami… tak berubah-rubah, macam-macam tu juga. Akhirnya, perceraian pun tidak dapat dielakkan lagi.
Mengapa ini berlaku? Jawabnya, kerana dalam hati suami dan isteri itu tidak ada lagi prinsip “kerana Allah”. Rasa syak wasangka, marah melulu, kecewa, jemu, jeran dan terancam mula bersarang dalam jiwa apabila “bukan kerana Allah” menjadi begitu dominan dalam sanubari suami dan isteri masa kini. Semakin lama berumah tangga semakin ketara segala kelemahan dan kesalahan.
Pada mulanya dicuba-cuba juga bersabar. Ah, demi cinta ku pada nya, begitu pujuk-pujuk hati. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, segala-galanya masih “gitu-gitu” juga. Bila suami sampai di muka pintu (pulang daripada bekerja), muka isteri mencuka, keluhan atau leteran pun bermula, tidak ada lagi salam berkucup tangan, tidak ada lagi wangian dan haruman, tidak ada jawapan salam yang sopan…
Dulu pernah suami menegur bersulam kata dengan kiasan dan perlambangan. Namun isteri buat tidak tahu kerana di hatinya juga ada “dendam”. Ah, kau sahaja yang ingin aku berubah, kau pula bagaimana? Aku jemu melihat kau umpama raja dalam rumah tangga yang menyuruh aku membuat segala-galanya. Sejak bangun tidur aku bagaikan hamba sahaya yang asyik membersihkan, memasak, mengasuh, mengemas dan seribu satu kerja lagi, gerutu hati isteri.
Kau tidak pernah berubah wahai suami. Pakaian bersepah. Tingkah laku mu jauh daripada yang ku kenal dahulu. Pantang ditegur, ego mu meledak. Kau semakin bungkam dan bisu ketika aku ingin meluahkan dan menceritakan segala-galanya. Dan perlukah aku meluahkannya lagi, setelah berkali-kali kau seakan tuli untuk mendengarnya!
Jiwa yang kecil akan membesarkan masalah yang remeh apatah lagi masalah yang memang besar. Bila di hati tidak ada lagi “kerana Allah”, rumah tangga akan semakin goyah. Di dalam hati sudah timbul bibit-bibit ingin berpisah… Berpisah secara rasmi dengan jatuhnya talak bersendikan syarak atau berpisah secara sepi, dengan putusnya ikatan cinta tanpa kemesraan dan keharmonian hati.
Jasad rapat, tetapi hati kian jauh terpisah. Sesetengah pasangan nekad terus mengambil keputusan untuk berpisah. Jika begini apa gunanya ditunggu lagi, kita bercerai! Dan sesetengah pasangan pula tetap di situ mempertahankan cinta yang bagaikan hidup segan mati tak mahu – “better bend than break” (biar sekah asalkan tak patah). Golongan ini sabar mengharungi perkahwinan yang tidak bahagia.
Mereka yang memilih bercerai, inginkan bahagia di tempat, di suasana atau dengan keadaan yang lain (dan mungkin juga dengan orang yang lain?). Tidak ada gunanya mempertahankan perkahwinan yang tidak bahagia… cari sahaja bahagia di tempat yang lain. Mereka yang bertahan pula mungkin merasakan, jika pasangan ku ini pun tidak memberikan aku bahagia, sedangkan aku yang mencari dan dicarinya dulu, mana ada jaminan aku bahagia dengan orang atau di tempat yang lain? Biarlah, aku bertahan sahaja…
Siapa antara kedua golongan ini yang lebih bernasib baik? Yang bercerai untuk mencari bahagia atau yang bersabar dengan perkahwinan yang tidak bahagia? Subhanallah, hasil kajian menunjukkan setelah bertahun-tahun berlalu mereka yang bersabar degan perkahwinan yang tidak bahagia akhirnya lebih bahagia daripada mereka yang mengambil keputusan untuk bercerai!
Itulah berkat sabar. Kerana kesabaran itu lebih dekat dengan iman. Bukankah kesabaran itu separuh daripada iman. Dan dalam iman itulah tersemat roh kalimah “kerana Allah”. Sesungguhnya, Allah bersama dengan orang yang sabar. Bukankah dalam hidup ini, mereka yang berjaya mengharunginya bukan orang yang bijak, cantik dan ternama… tetapi oleh orang yang sabar.
Justeru, walau seteruk mana kerenah pasangan kita, belajarlah menerima dia seadanya. Bersabarlah dengan sikapnya kerana dia pun hakikatnya sedang belajar bersabar dengan kerenah kita. Jangan marah jika dia tidak berubah mengikut apa yang kita kehendaki kerana kita juga hakikatnya tidak berubah mengikut apa yang kita sendiri kehendaki.
Kita tidaklah setabah Siti Hajar dan pasangan kita pun tidak sebaik Ibrahim… namun setidak-tidaknya kita mengakui dan sentiasa mencuba untuk bersabar dengan peneguhan kata “kerana Allah”. Ingatlah, ragam, karenah dan tabiat pasangan kita bukan semuanya untuk diselesaikan. Seperti juga masalah-masalah hidup yang lain ada yang dapat diselesaikan dan ada yang tidak.
Bagaimana menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan? Ya, ada masalah yang kita “kena hidup dengannya.” Selama-lamanya. Ia memang tidak dapat dan tidak perlu diselesaikan… Mengapa? Allah takdirkan begitu sebagai saluran kita merintih, merayu dan bergantung kepada-Nya.
Oh, rupa-rupanya Allah pasangkan kita dengan pasangan kita untuk kita saling merintih kepada Allah dalam menghadapi kerenah masing-masing. Allah menguji kita melalui dia, Allah menguji dia melalui kita. Inilah yang kita belajar daripada cinta dan sabar dalam rumah tangga Nabi Ibrahim dan isterinya Siti Hajar. Sesungguhnya, cinta mereka itu bukan cinta biasa!
AKU BUKAN SUMAYYAHMU!

Suami ku bunga semalam telah layu
Gugur dari jambangannya
Mujur cinta dan perjuangan kita
Bukan itu lambangnyaMulut ku kaku untuk merayu
Hati ku malu untuk terus cemburu
Tidak seperti dulu
Kerana kini kau mujahid
Yang rindu memburu syahid

Maaf kiranya tutur dan tingkah


Senyum dan seri wajah


Pudar dan hambar di mata mu


Pada ku yang baru belajar


Menjadi seorang mujahidah


Aku kini hanya mendoakan


Agar kau menjadi Yassir


Walau kiranya… bukan aku Sumayyahmu


Dalam tangis ku cuba senyum ketika kau bermusafir


Sepertinya Siti Hajar


Sewaktu ditinggalkan Ibrahim


Biar selalu kita berpisah


Selalu derita kerap susah


Kerana syurga menagih ujian berat


Sedangkan neraka dipagari nikmat!






notes :
Menarik artikel ini untuk dikongsi bersama ,untuk sama2 fikirkan ....sayu ak melihat akan kadar penceraian yang meningkat akhir2 ini ....yg mana institusi kekeluargaan adalah faktor utama terjadinya masalah sosial yg makin terjadi dlm masyarakat kita skrg,...cintalah manusia kerana Allah inilah hakikat cinta sejati..sama2 kita muhasabah diri kita...

Mungkin dalam masa beberapa minggu ini blog ini akan senyap buat seketika ,dek kerana kesibukan memandangkan musim test makin hampir & juga kerana komitmen lain.tetapi sekiranya ada artikel yang menarik untuk dikongsi insyaAllah sy tetap masukkan....

salam kasih sayang sejagat buat pembaca budiman


Thursday, March 4, 2010

kisah pemuda beribu-bapakan babi




sekadar gambar hiasan

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah

S.W.T Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit
Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah.Nabi Musa
sering bertanya dan Allah akan menjawab pada waktu itu juga. Inilah
kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa telah bertanya kepada Allah. "Ya Allah, siapakah orang

di syurga nanti yang akan berjiran dengan aku?". Allah pun menjawab dengan
mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah
mendapat jawapan, Nabi Musa turun dari Bukit Tursina dan terus berjalan
mengikut tempat yang diberitahu. Setelah beberapa hari di dalam perjalanan
akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat berkenaan.
Dengan pertolongan beberapa orang penduduk di situ, beliau berjaya
bertemu dengan orang tersebut.

Setelah memberi salam beliau dipersilakan
masuk dan duduk di ruang tamuTuan rumah itu tidak melayan Nabi Musa. Dia masuk ke dalam bilik danmelakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawaseekor babi betina yang besar. Babi itu didukungnya dengan cermat. NabiMusa terkejut melihatnya. "Apahal ini?, Nabi Musa berbisik dalamhatinya penuh kehairanan.Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu babi itu dilapsampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantar semula ke dalam bilik.

Tidak lama kemudian dia keluar sekali lagi dengan membawa pula seekor
babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan.
Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih
sayang. Babi itu kemudiannya dihantar semula ke bilik.
Selesai kerjanya barulah dia melayan Nabi Musa. "Wahai saudara! Apa
agama kamu?". "Aku agama Tauhid", jawab pemuda itu iaitu agama Islam.
"Habis, mengapa kamu membela babi? Kita tidak boleh berbuat begitu." Kata
Nabi Musa

"Wahai tuan hamba", kata pemuda itu. "Sebenarnya kedua babi itu adalah

ibubapa kandungku. Oleh kerana mereka telah melakukan dosa yang besar,
Allah telah menukarkan rupa mereka menjadi babi yang hodohrupanya. Soal
dosa mereka dengan Allah itu soal lain. Itu urusannya dengan Allah. Aku
sebagai anaknya tetap melaksanakan kewajipanku sebagai anak. Hari-hari
aku berbakti kepada kedua ibubapaku sepertimana yang tuan hamba lihat
tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan
tugasku.", sambungnya.

"Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar mereka diampunkan. Aku
bermohon supaya Allah menukarkan wajah mereka menjadi manusia yang
sebenar, tetapi Allah masih belum memakbulkan lagi.", tambah pemuda itu
lagi.

Maka ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s. 'Wahai
Musa, inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di Syurga nanti, hasil
baktinya yang sangat tinggi kepada kedua ibubapanya. Ibubapanya yang
sudah buruk dengan rupa babi pun dia berbakti juga. Oleh itu Kami naikkan
maqamnya sebagai anak soleh disisi Kami."

Allah juga berfirman lagi yang bermaksud : "Oleh kerana dia telah berada di
maqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami angkat doanya. Tempat
kedua ibubapanya yang Kami sediakan di dalam neraka telah Kami
pindahkan ke dalam syurga."

Itulah berkat anak yang soleh. Doa anak yang
soleh dapat menebus dosa ibubapa yang akan masuk ke dalam neraka
pindah ke syurga. Ini juga hendaklah dengan syarat dia berbakti kepada
ibubapanya. Walaupun hingga ke peringkat rupa ayah dan ibunya seperti
babi. Mudah-mudahan ibubapa kita mendapat tempat yang baik di akhirat
kelak.

Walau bagaimana buruk sekali pun perangai kedua ibubapa kita itu bukan
urusan kita, urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang
sebagaimana mereka menjaga kita sewaktu kecil hingga dewasa. Walau
banyak mana sekali pun dosa yang mereka lakukan, itu juga bukan urusan
kita, urusan kita ialah meminta ampun kepada Allah S.W.T supaya kedua
ibubapa kita diampuni Allah S.W.T.
Doa anak yang soleh akan membantu kedua ibubapanya mendapat tempat
yang baik di akhirat, inilah yang dinanti-nantikan oleh para ibubapa di alam
kubur.

Erti sayang seorang anak kepada ibu dan bapanya bukan melalui hantaran
wang ringgit, tetapi sayang seorang anak pada kedua ibubapanya ialah
dengan doanya supaya kedua ibubapanya mendapat tempat yang terbaik di
sisi Allah s.w.t

Konsep Sabar, Syukur Dan Yakin

Sabar.
Saya berasa sangat yakin bahawa konsep sabar ini diajar dan dianjurkan oleh semua agama samawi dan juga apa jua bentuk kepercayaan. Kita diajak untuk bersabar dalam menempuh setiap keperitan dan dugaan hidup, juga bersabar dalam setiap musibah yang datang melanda. Namun yang sering berlaku adalah kita menjadi selalu tidak sabar apabila ujian tersebut benar-benar datang melanda hidup ini.
Apakah gunanya sabar? Sabar itu bukanlah sesuatu yang retorik, sabar itu sangat bermakna bila manusia betul-betul di uji. Bersabar bukan bermakna menyerah, tetapi mengambil satu langkah ke belakang untuk merancang langkah yang lebih panjang ke depan! Itulah gunanya sabar, kita akan mengetahui seperti apakah hati kita ketika ini. Malahan sabar itu bukan terhenti setakat itu sahaja, malah kita harus lebih banyak bersabar dalam menerima nikmat dan rahmat Tuhan Semesta Alam yang melimpah ruah itu. Kita malah hanya bersabar dalam menerima ujian dan keperitan hidup ini, tetapi kita jarang-jarang bersabar bila didatangi kesenangan dan kejayaan! Fikirkanlah....
Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan 3 ganjaran bagi orang-orang yang sabar :
  • •Kesejahteraan di dunia & akhirat
  • •Rahmat dan kasih sayang-Nya
  • .Petunjuk dalam menghadapi berbagai kesulitan
Syukur.
Seringkali sukar untuk mengungkapkan bicara syukur dalam hidup ini. Kita malah merasakan bahawa setiap rahmat dan kejayaan dan kesenangan yang datang itu sebagai sesuatu yang sememangnya layak untuk kita! I deserve it! Begitulah kata hati manusia. Tapi pernahkah kita bertanya kenapa Sang Pencipta memberikan rahmat dan kesenangan itu kepada kita ? Bukan kepada orang lain ? Nah! Bersyukurlah dengan apa yang kita ada. Hati menjadi tidak tenang dan bahagia kerana sering melihat apa yang tidak kita punyai. Kita sering mengimpikan sesuatu yang dimiliki orang lain, kebahagiaan yang dimiliki orang !
Bersyukurlah dengan melihat dan memahami penderitaan orang lain. Bersyukurlah dengan memperbanyak merenung jauh ke dalam diri dan bayangkanlah jikalau Tuhan Yang Maha Esa ini suatu hari nanti akan lari jauh tidak lagi memandang dan memperdulikan kita............
Orang-orang yang selalu bersyukur akan sering merasakan kecukupan di dalam hidupnya. Mereka dijanjikan kecukupan rezekinya oleh Tuhan Yang Esa dan tidak lagi berkeluh kesah melihat kesenangan dan kejayaan orang lain.
Yakin.
Ramai orang-orang yang telah berjaya di dunia ini memulai langkah pertama dengan penuh keyakinan. Walaupun kegagalan demi kegagalan yang mereka temui sepanjang perjalanan itu, tetapi akhirnya dengan keyakinan mereka yang jitu telah membuatkan mereka berjaya dan malah lebih berjaya dari orang lain. Begitulah hebatnya rasa sebuah keyakinan itu! Bagi manusia beragama, keyakinan bahawa akan adanya malaikat pencatit di kiri kanan kita, membuat kita betul-betul memanfaatkan apa jua yang ingin kita lakukan. Begitu juga dengan keyakinan akan adanya hari kita dibangkitkan semula untuk melihat neraca timbangan amal, akan membuatkan kita benar-benar takut akan siksaan akibat perbuatan jahat dan akhlak yang keji.
Orang-orang yang yakin memahami bahawa setiap amal perbuatan jikalau tidak dirringi dengan niat dan keihklasan yang baik, maka ia hanya akan menjadi amalan yang sia-sia dan menjadi sirna.......
Keyakinan bukan bermakna kitalah yang menentukan dan memastikan sesebuah kejayaan. Malah orang-orang yakin mempunyai pergantungan 100% kepada Yang Maha Kuasa setelah segala ikhtiar dan perancangan dilunaskan. Mereka inilah yang memami betapa segalanya yang berlaku di mukabumi ini tidak satu pun terlepas dari Genggaman dan Pengetahuan Yang Maha Esa.
Dengan mempertajam rasa SABAR, SYUKUR DAN YAKIN ini, hidup terasa lebih bermakna dan hati akan merasa lebih bahagia.
Kita sememangnya ditakdirkan untuk berbahagia dengan segala nikmat yang dianugerahkan Yang Maha kuasa!

Coretan~_^
Terima kasih kepada Tn Haji azizan diatas segala perkongsian yang mantap & padat & juga semua kakitangan Airborne Discovery.

Related Posts with Thumbnails